Oleh: evinovi | Desember 4, 2009

Plastik

Kawan atau Lawan?

Coba sebut barang plastik apa yang ada di dapur. Kemungkinan besar lebih dari satu. Memang, semakin banyak saja orang yang memakai gelas, piring, mangkuk, sendok, centong nasi, baskom, tudung saji, baki, bakul nasi, rantang, hing-ga talenan, dalam versi?plastik. Malah banyak juga ibu-ibu yang mulai sering memakai plastik lemas untuk pembungkus makanan seperti yang digunakan di pasar swalayan. Bu, Pak plastik memang banyak sekali fungsinya. Apalagi yang berkaitan dengan penanganan makanan. Dengan bungkus plastik, misalnya, makanan menjadi tetap bersih dan terlindung dari debu atau serangga yang akan mengerubutinya. Dengan plastik, makanan bisa lebih tahan lama, baik warna dan rasanya. Dan tak kalah penting, makanan jadi mudah dibawa. Saking umumnya penggunaan plastik, banyak di antara kita tak pilih bulu memakainya. Padahal tak semua plastik aman untuk menyimpan makanan, lho. Belakangan ini, misalnya, terbetik berita mengenai pemakaian plastik pembungkus makanan yang mungkin bisa memba-hayakan kesehatan keluarga. Hasil peneli-tian yang diadakan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) dan Japan Offspring Fund yang dilaporkan dalam majalah Warta Konsumen edisi April 2001 menunjukkan, beberapa bungkus permen, plastic wrap dan plastik kemasan cepat saji (food wrap) ternyata mengandung unsur yang dapat membahayakan kese-hatan tubuh.

RACUN PINDAH KE MAKANAN

Saat ini ada beberapa jenis plastik yang dipakai untuk membungkus atau menyim-pan makanan. Yaitu poli propilen, poli etilen, poli stiren, poli akrilat, vinyli-dence chloride resin (VCR) dan poly vinyl chloride (PVC). Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), yang masih diragukan keamanannya untuk kesehatan adalah plastik yang mengandung poli stiren, VCR dan PVC. Ini lantaran keti-ganya diduga mengandung unsur yang bersifat karsinogenik (dapat menimbulkan kanker) serta mengandung dioksin yang berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan hidup. Gawatnya, ketiga jenis plastik inilah yang banyak sekali digunakan sebagai pembungkus makanan atau minuman. Semisal, plastik lemas/bening dan stirofom. Untunglah, risiko bahaya pemakaian plastik bukanlah sesuatu yang serta merta terjadi. Menurut hasil penelitian YLKI risiko bahaya plastik pada umumnya ter-gantung beberapa hal:

1 Faktor material plastik yang terdiri dari residu (sisa) monomer plastik, stabilizer, pigmen atau pewarna, extender (penambah berat) dan plasti-cizer. Faktor material plastik berisiko bahaya lantaran dapat menyebabkan migrasi (per-pindahan) komponen plastik ke dalam makanan. Ini terjadi akibat lemahnya ikatan struktur plastik itu sendiri, yaitu ikatan residu monomer plastik dan zat pembantu polimerisasi plastik (stabilizer, plasticizer, dsb). Polimer plastik sendiri relatif jarang dapat berpindah ke dalam makanan, karena besarnya molekul polimer tersebut. Hasil penelitian YLKI, plastik-plastik yang saat ini sering dipakai sebagai wadah makanan cepat saji (fast food), mi instant, wadah nasi, kemasan minuman air mineral, kemasan plastik yang biasa digunakan sebagai pembungkus buah berasal dari jenis ini.

2 Jenis makanan yang diwadahi. Jenis makanan dapat memicu larutnya plastik ke dalam makanan. Makanan yang paling riskan memicu perpindahan plastik adalah makanan yang mengandung lemak dan bersifat asam. Sebuah penelitian menunjukkan adanya kandungan plastik pada sari buah jeruk dan minyak makan. Yaitu mengandung monomer vinyl chlori-da sebanyak 10-40 part perbillion (ppb). Dari penelitian selanjutnya, diketahui bahwa plastik tersebut merupakan plastik jenis PVC. Buah yang dibungkus plastik PVC juga mengandung risiko bahaya. Sebab, buah-buahan memiliki asam organik yang diduga dapat memicu pindahnya monomer plastik ke dalam makanan. Tampaknya, hal ini perlu diantisipasi konsumen, mengingat di pasar swalayan kerap dijual buah yang dibungkus cling wrap, yaitu sejenis plastik yang sangat tipis (lihat tabel). Perhatikan pula makanan atau minuman yang diwadahi stirofom (styrofoam, plastik berwarna putih susu). Bahan ini terbuat dari stiren, yang bersifat larut alkohol. Itu sebabnya, menurut Dr. Ir. Ali Khomsan, dosen Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga, Faperta Institut Pertanian Bogor (IPB), jika kita mem-basahi stirofom dengan aseton atau alkohol, maka stirofom akan mengerut dan melumer. Stirofom juga bersifat larut oleh lemak, sehingga sebenarnya tidak cocok sebagai wadah susu atau yoghurt. Sebab, kedua jenis minuman ini mengandung lemak yang relatif tinggi. Bahkan, minuman kopi de-ngan campuran krim juga tak dianjurkan diwadahi stirofom. Makanan yang mengan-dung vitamin A tinggi sebaiknya juga tidak dipanaskan di dalam wadah strofom, kare-na stirene yang ada di dalamnya dapat larut ke dalam makanan. Pemanasan akan memecahkan vitamin A menjadi toluene. Toluene inilah pelarut stiren,? terang Ali.

3 Lamanya kontak antara plastik de-ngan makanan. Lama-tidaknya makanan/minuman dike-mas plastik juga mempengaruhi migrasi plastik ke dalam makanan. Penelitian me-nemukan, semakin lama makanan dikemas dalam plastik, maka semakin banyak pula komponen plastik yang akan pindah ke dalam makanan.

4 Faktor suhu/ temperatur Suhu atau temperatur sering dianggap faktor terpenting. Pasalnya, semakin tinggi suhu semakin besar pula kecepatan per-pindahan komponen plastik ke dalam makanan/minuman. Dan ini sering tidak dapat disadari. Coba perhatikan beberapa wadah mi instan berbentuk gelas atau mangkuk. Risiko larutnya komponen plas-tik ke dalam sajian mi menjadi tinggi jika mi langsung diseduh air panas dan dimakan dari wadahnya. Sebab, wadah tersebut merupakan stirofom yang me-ngandung poli stiren (diduga bersifat karsinogenik). Untunglah, tidak semua stirofom seperti itu. Ada juga kok, bebera-pa stirofom yang mengandung poli propilen. Unsur ini relatif lebih aman, hanya saja pada suhu tertentu membuat makanan/minuman beraroma plastik.

PRO KONTRA PEMAKAIAN STIROFOM

Belakangan pro-kontra tentang pema-kaian stirofom sebagai kemasan makanan makin meluas. Mereka yang kontra men-duga penggunaan bahan ini bisa meng-ganggu kesehatan tubuh. Ali Khomsan mengatakan, tahun 1986, National Human Adipose Tissue Survey di AS me-ngungkapkan bahwa 100% jaringan lemak orang Amerika mengandung stiren. Bahkan tahun 1988 kandungan stiren telah meningkat hingga sepertiga ambang batas, yang dapat memunculkan gejala neurotox-ic (gangguan syaraf). ?alah satu sumber stiren tentu saja styrofoam, yang sehari-hari banyak digunakan orang Amerika,? jelasnya. Ali melanjutkan, Polystyrene & Health Homepage menyatakan bahwa paparan jangka panjang terhadap stiren menye-babkan neurotoxic (kelelahan, nervous dan sulit tidur) serta hemoglobin rendah. Hemoglobin adalah bagian darah merah yang berfungsi mengangkut oksigen. ?ila hemoglobin rendah, banyak sel-sel tubuh kekurangan oksigen, sehingga memuncul-kan gejala lesu, letih dan lemah. Biasanya disebut sebagai anemia,?terang Ali. Selain itu, penelitian di Rusia tahun 1975 juga menemukan adanya gangguan menstruasi pada perempuan yang bekerja di lingkungan yang memungkinkan mereka selalu menghirup stiren konsentrasi ren-dah. Gangguan ini meliputi siklus menstru-asi tak teratur dan perdarahan berlebihan (hipermenore). Yang mengejutkan, studi di New Jersey menemukan 75% ASI terkontaminasi stiren. Ini terjadi karena ibu-ibu menggunakan wadah stirofom. Stiren diduga juga bisa bermigrasi ke janin melalui plasenta. Namun mereka yang pro berpendapat lain. Pakar teknologi pangan IPB Prof. Dr. FG Winarno menyangkal stirofom yang me-ngandung poli stiren berbahaya bagi tu-buh. Menurutnya, masyarakat tidak perlu kuatir. Berbagai penelitian internasional menunjukkan molekul monomer stiren da-ri kemasan stirofom yang terlarut dalam air panas tidak bersifat karsinogenik dan tidak berakumulasi di dalam tubuh. Larut-an poli stiren juga tidak terbukti mempe-ngaruhi sistem saraf pusat. ?ahkan kemu-ngkinan mengganggu sistem endokrinologi dan reproduksi yang sempat dihebohkan pun tidak terbukti,?tegas Winarno yang juga penasehat Codex mi instan. Menurut Winarno, data mengenai monomer stiren hasil ekstraksi wadah gelas plastik mi instan memang pernah dilaporkan oleh Hanai, asisten Pusat Penelitian Lingkungan Universitas Nasional Yokohama, Jepang. Saat itu Hanai me-nuangkan masing-masing 200 cc air men-didih selama 5 menit ke dalam wadah stirofom ramen (mi) dari 12 merek milik lima perusahaan. ?emang ada molekul monomer stiren terlarut, tapi jumlahnya amat kecil dan tidak perlu dikuatirkan,?tegas Winarno Tahun 1971, lanjut Winarno, Huntington Research Center di Inggris sudah pernah melakukan penelitian berjudul Resiko Kesehatan yang Mungkin Terjadi Akibat Residu Stirofom yang Larut dalam Kemasan. ?asilnya menya- takan, wadah stirofom yang digunakan untuk produk pangan tidak bersifat racun dan bukan karsinogenik,?ungkapnya. Bu, Pak, terlepas dari pro-kontra di atas, penetapan standar keamanan polistiren sejauh ini memang baru dilakukan oleh Amerika Serikat dan Jepang. Administrasi Pengawasan Makanan dan Obat-obatan (FDA) Amerika Serikat mengizinkan stiro-fom untuk wadah semua jenis pangan. Syaratnya, kandungan stiren monomer harus lebih rendah dari 5.000 ppm. Standar ini kemudian diadopsi untuk perdagangan pangan dunia. Tapi Jepang jauh lebih ketat. Kemasan pangan stirofom diijinkan, asal kadar residu polistirennya tidak melebihi 2000 ppm. Sayang ya, Indonesia belum mempunyai standardisasi seperti itu. Tapi menjelang Indonesia Sehat 2010, apa tidak sebaiknya kita mulai memikirkannya?

Tips Aman Menggunakan Plastik untuk Makanan/Minuman Plastik

  1. Hindarkan menuangkan makanan/minu-man panas ke dalam plastik.
  2. Perhatikan tanggal kadaluwarsa makanan berkemasan plastik.
  3. Kurangi makan atau minum dari wadah stirofoam.
  4. Hindari membungkus potongan buah, gorengan atau makanan matang  lain-nya dalam plastik kresek. Bungkus dulu dengan plastik gula.
  5. Pastikan tidak pernah memanaskan makanan dalam wadah plastik yang tidak tahan panas. Kecuali wadah plastik yang dinyatakan microwave safe.
  6. Patuhilah petunjuk konsumsi/batas kadaluwarsa pada makanan yang dike-mas plastic wrapping.
  7. Singkirkan plastik wrapping sebelum mencairkan makanan beku atau mem-anaskan ulang dalam oven microwave.
  8. Cuci dan sterilkan botol plastik wadah susu, air kemasan atau minuman ringan, jika ingin dipakai lagi untuk wadah minuman lain. ¥TG/DARI BERBAGAI SUMBER

Mengenal Jenis Plastik kemasan Makanan

  1. Poli propilen: hampir tidak berbahaya dan biasa dipakai sebagai wadah makanan untuk bepergian, cetakan kue, pembungkus bubur instan, wadah pe-manas air elektrik dan gelas.
  2. Poli stiren: bersifat karsinogenik, berpengaruh pada sistem syaraf pusat dan biasa dipakai sebagai bungkus mi instan, wadah fast food, plastik be-ning/ kaku yang biasa dipakai untuk sendok sayur, plastik kuning lunak untuk gelas serta plastik bening untuk gelas.
  3. Poli vinyl chlorida (PVC): bersifat karsinogenik dan mengandung dioksin, serta biasa dipakai sebagai kemasan permen, plastik bening yang kaku/keras, plastic wrap atau cling wrap (plastik bening yang sangat tipis pem-bungkus makanan atau buah-buahan).
  4. Poli akrilat: hampir tidak berbahaya dan biasa dipakai sebagai kemasan air mineral.
  5. Poli etilen: hampir tidak berbahaya dan biasa dipakai sebagai gelas plas-tik yang ada tutup dan lubang sedotan-nya, plastik kantong dan kantong plastik es tahan santan.
  6. Poli propilen dan filter anorganik: hampir tidak berbahaya dan biasa dipakai sebagai sendok plastik.

SUMBER: WARTA KONSUMEN EDISI APRIL 2001


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: